Pengelolaan Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Jual Tong Sampah  

Apa itu limbah B3? Limbah B3 adalah singkatan dari Bahan Beracun dan Berbahaya dalam PP No.101 Tahun 2014 adalah sisa usaha atau kegiatan yang mengandung zat atau bahan yang secara langsung atau tidak langsung mencemari, merusak, atau membahayakan lingkungan, kesehatan, atau keberadaan orang dan mahluk hidup lainnya.

Limbah B3 umumnya diyakini mengandung zat anorganik berbahaya atau teratogenik. Teratogenik itu sendiri adalah zat berbahaya yang dapat menyebabkan pertumbuhan abnormal. Dalam kedokteran, misalnya, pertumbuhan sel selama kehamilan dapat merusak embrio.

Sering kita menjumpai limbah B3 dalam kehidupan sehari-hari, namun karena kurangnya pemahaman dan tanpa sadar memperlakukannya sebagai limbah biasa. Padahal, efek jangka panjang sangat berbahaya pada lingkungan dan kesehatan.

Artikel lainnya : Manfaat Ekonomi dari Pemilahan Sampah

Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Pengelolaan Sampah

Limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun), tergantung pada sifat atau konsentrasi dan jumlahnya, secara langsung atau tidak langsung dapat merusak atau mencemari lingkungan karena limbah mengandung zat beracun dan membahayakan kesehatan manusia.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2008 yang membahas Tentang Pengelolaan Sampah, sampah B3 yang meliputi:

  1. Sampah yang bahan berbahaya dan beracun.
  2. Sampah limbah termasuk limbah B3.
  3. Sampah yang dihasilkan akibat dari bencana.
  4. Pembongkaran puing-puing konstruksi bangunan.
  5. Sampah yang tidak dapat diolah secara teknis.
  6. Produksi sampah reguler.

Baca juga: Cara Memilih Tempat Sampah Terbaik

Ciri-Ciri Limbah B3

Berikut ini adalah ciri-ciri limbah B3 menurut Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999 Limbah B3 diantaranya:

  1. Berpotensi Ledakan. Limbah dapat meledak pada suhu dan tekanan standar (25 derajat C, 760 mmHg) atau menghasilkan gas panas di bawah tekanan tinggi dari reaksi kimia atau fisik yang dapat dengan cepat merusak lingkungan sekitar.
  2. Berpotensi Terbakar; Limbah yang memiliki salah satu sifat berikut ini: • Alkohol dalam bentuk cair kurang dari 2% volume atau titik nyala 60 derajat atau kurang,  percikan api, percikan api atau sejenisnya pada tekanan udara 760 mmHg. • Tidak cair. Pada suhu dan tekanan standar, gesekan, pengeringan atau perubahan kimia dapat menyebabkan kebakaran spontan, yang dapat menyala terus menerus selama pembakaran. • Limbah yang mudah terbakar di bawah tekanan. • Limbah pengoksidasi.
  3. Sifatnya Reaktif, Reaksi didefinisikan sebagai reaksi yang menunjukkan salah satu ciri berikut: • Dalam kondisi normal, reaksi bersifat volatil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa meledak. • Dapat bereaksi hebat bila dengan air. • Mudah meledak bila dicampur dengan air, menghasilkan gas, uap, atau asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. • Limbah sianida, sulfida, atau amonia pada kondisi pH antara 2 dan 12,5 dapat menghasilkan gas, uap, atau asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Baca : Pentingnya Menjaga Kebersihan di Lingkungan

Potensi Berbahaya Lainnya

  1. Berracun: Limbah mengandung bahan pencemar yang bersifat racun bagi manusia dan lingkungan serta dapat menyebabkan kematian atau penyakit serius jika masuk ke dalam tubuh melalui penghirupan, melalui kulit atau melalui mulut.
  2. Limbah infeksius, laboratorium atau limbah lain yang terkontaminasi bakteri infeksius. Limbah ini berbahaya karena mengandung bakteri seperti hepatitis dan kolera yang dapat menginfeksi pekerja, pemulung dan masyarakat sekitar pembuangan sampah akhir (TPA).
  3. Korosi: Limbah yang memiliki salah satu karakteristik tersebut sebagai berikut: • Menyebabkan iritasi kulit (luka bakar). • Menginduksi karat pada lembaran baja pada 550 ° C dengan laju korosi lebih dari 6,35 menit / tahun. • Pada pH 2 atau kurang untuk limbah asam dan 12,5 atau lebih untuk basa.

Baca Juga : Fungsi Warna Pada Tempat Sampah

Jenis-Jenis Limbah B3 di Lingkungan Sekitar

  1. Limbah B3 dari sumber yang tidak ditentukan. Atau B3 bukan dari proses utama, tetapi dari perawatan peralatan, pembersihan, inhibitor korosi, kerak, pengemasan, dll.
  2. Limbah B3 dari sumber tertentu. Artinya, sisa bahan baku, produk atau proses B3 dari suatu industri atau kegiatan tertentu.
  3. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, kemasan bekas, dan limbah yang tidak memenuhi spesifikasi.

Kegiatan sehari-hari yang kita lakukan, terutama di lingkungan tempat tinggal kita, menghasilkan limbah sisa atau yang biasa disebut dengan limbah.

Limbah rumah tangga tidak hanya menghasilkan limbah makanan bekas tetapi juga limbah kategori B3, sehingga jelas memerlukan penanganan khusus.

Jenis limbah tersebut antara lain aki bekas, lampu neon dan bohlam bekas, kemasan cat, kosmetik, atau pelumas kendaraan yang seringkali mengandung bahan penyebab kesehatan lainnya seperti logam merkuri.

Baca Juga: Pengertian Sampah Menurut Para Ahli

Merkuri logam biasa terkandung dalam baterai sampah B3 dikelompokkan berdasarkan jenis kegiatan bahan produk bekas dan sumbernya, sebagai berikut:

 

 

Pengelolaan Limbah B3 Rumah Tangga

Pengelolaan limbah B3 rumah tangga sebenarnya menggunakan pendekatan yang sama dengan industri. Ini tentang mengurangi dan mendaur ulang sampah.

Tahap pengolahan limbah rumah tangga B3 dimulai dengan pemilahan. Limbah B3 harus dipisahkan dan dipisahkan dari sampah organik dan anorganik. Limbah B3 yang terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang aman. Pastikan Anda memakai sarung tangan saat melakukan ini.

Selain itu, jika pengelolaan limbah B3 dilakukan secara gotong royong dengan warga di tempat tinggal Anda, maka langkah selanjutnya adalah pengumpulan dan penyimpanan massal, pengangkutan dan penyimpanan sementara. Semuanya harus dilakukan dengan pendekatan pengelolaan limbah B3, mengikuti peraturan pemerintah dan saran ahli.

Kita harus berperan baik dalam mengolah limbah B3 tidak hanya sebagai warga negara tetapi juga sebagai konsumen. Kurangi konsumsi produk yang mengandung zat berbahaya dan utamakan produk ramah lingkungan.

Selain itu, penggunaan yang tepat dapat memperpanjang umur produk. Misalnya, Anda dapat membersihkan baterai perangkat elektronik agar lebih awet, atau menghemat penggunaan bahan pembersih.

Baca juga: Manfaat Gerobak Sampah untuk Pengelolaan Sampah

JENIS JENIS LIMBAH B3

Inilah enam jenis limbah B3 yang paling sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, namun seringkali tidak terkelola:

Baterai Bekas

Sisa baterai bekas mungkin dibuang ke tempat sampah. Mereka juga digunakan untuk membuang sampah plastik dan kertas bekas.

Untuk saat ini, baterai bekas mengandung bahan kimia berbahaya dan harus dibuang satu per satu. Baterai biasanya mengandung campuran mangan, karbon, MnO2 (mangan dioksida), debu karbon, dan NH Cl (amonium klorida).

Baterai isi ulang mengandung kadmium, nikel dan alkali (kalium hidroksida). Jika dibuang sembarangan, bahan kimia tersebut dapat mencemari tanah dan air tanah dan secara tidak langsung masuk ke dalam rantai makanan melalui tanaman yang dikonsumsi manusia.

Keracunan logam kadmium adalah tekanan darah tinggi, kerusakan ginjal, kehilangan sel darah merah, sakit perut, dan patah tulang sederhana. Kadar mangan yang tinggi dapat menyebabkan keracunan dan kerusakan saraf pada manusia. Hal ini dapat menyebabkan halusinasi, penyakit Parkinson, emboli paru, dan bronkitis.

Baca juga:Cara Membuat Tempat Sampah dari Botol Bekas

Lampu dan Bohlam TL

Bagaimana dengan lampu lama di kantor atau di rumah? Apakah Anda membuangnya ke tempat sampah atau memisahkannya dari jenis sampah lain? Lampu fluorescent dan TL mengandung nikel dan merkuri, yang sangat berbahaya bagi metabolisme tubuh Anda, jadi mulailah memisahkan limbah dari lampu.

Lampu neon memiliki 5 miligram merkuri dalam bentuk bubuk atau uap. Uap merkuri ini adalah racun saraf atau racun, yang sangat berbahaya dan bisa berakibat fatal bagi otak dan ginjal. Akumulasi di dalam tubuh dapat membahayakan sistem saraf, perkembangan dalam kandungan, dan jaringan tubuh. Pada anak-anak, merkuri bahkan dapat menyebabkan penurunan IQ yang berdampak serius pada usia lanjut.

Oli Bekas

ini biasa digunakan pada motor listrik seperti genset yang digunakan pada bangunan komersial seperti pusat perbelanjaan seperti gedung perkantoran, apartemen dan pusat perbelanjaan, namun oli ini mengandung logam berat yang berbahaya bagi tubuh manusia. Secara medis, logam berat ini dapat merusak ginjal, saraf dan menyebabkan penyakit berbahaya seperti kanker.

Baca juga: Undang-Undang Pengelolaan Sampah

Aki Bekas (ACCU)

Istilah aki bekas sudah tidak asing lagi bagi siapa saja yang bekerja di industri otomotif. Namun tahukah Anda bahwa aki bekas juga merupakan limbah B3 yang perlu dibuang dengan benar? Mengapa? Menurut data yang diberikan oleh Australian Joint Environmental Impact Assessment Agency, debu timbal yang terkandung di dalamnya dapat mencemari lingkungan, dan air aki bekas bersifat korosif sehingga mengandung limbah B3.

Air dalam baterai bekas dapat merusak atau berdampak buruk pada benda lain. Selain bagi manusia, bisa berbahaya bagi mata, kulit, sistem pernapasan dan yang lebih serius secara medis.

Limbah Toner

Contoh lain produk yang sangat familiar digunakan di kantor adalah printer yang perlu menggunakan tinta. Bubuk toner adalah limbah B3 dan tidak boleh disamakan dengan limbah biasa.

Bubuk toner printer ini mengandung karbon aktif dalam toner yang mengandung karsinogen yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Partikel tinta sangat kecil sehingga tidak terlihat oleh mata manusia dan dapat tetap berada di udara untuk waktu yang lama.

Bayangkan menghirup udara ini tanpa menyadari konsekuensinya. Singkatnya, dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata, sakit kepala, gatal-gatal, masalah pernapasan, dan bahkan banyak kondisi medis seperti kanker.

Baca juga: Tips Menjaga Kebersihan

E-Waste

Apa itu limbah elektronik E-Waste?Sampah elektronik adalah sampah segala macam alat elektronik yang sudah tidak terpakai lagi, seperti televisi, smartphone, AC, mesin cuci, kamera pengintai, dan telepon genggam.

Menurut statistik yang diterbitkan oleh Global E-Waste, jumlah limbah elektronik yang dihasilkan pada tahun 2019 adalah yang tertinggi di Asia (2,9 juta ton), diikuti oleh Amerika Serikat (13,1 juta ton) dan Eropa (12 juta ton).

Afrika dan Oseania masing-masing menghasilkan 2,9 juta ton dan 700.000 ton limbah elektronik, namun berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan karena terbukti mengandung zat beracun seperti merkuri . Aliran limbah elektronik yang tidak terdokumentasi mengandung hingga 50 ton merkuri.

Selain enam kategori limbah di atas, terdapat lebih dari 90 jenis limbah B3 yang diklasifikasikan dalam PP.101 Tahun 2014, dan perincian menurut sektor manufaktur dapat ditemukan dalam panduan lengkap kategori limbah tersebut.

Limbah B3 Setelah mengetahui jenis sampah dan risiko pembuangan yang tidak tepat, kita akan mulai membuangnya dengan benar.

Baca juga: Pentingnya Tempat Sampah

Sediakan Tempat Sampah di Lingkunganmu

Untuk mengatasi masalah sampah yang ada dilingkungan masyarakat, tempat sampah merupakan solusi untuk menghindari bencan seperti banjir, pencemaran lingkungan dan lain-lain. Tempat sampah yang kami berikan tersedia dengan harga terjangkau untuk Anda.

Kami menyediakan tempat sampah dengan kualitas terbaik mulai dari tempat sampah fiberglass, tempat sampah plastik HDPE, Gerobak Sampah,Kontainer Sampah, Gunting Taman, Gunting Rumput, Sapu lidi, Cangkrang, Golok, Cangkul, dan lainnya masih banyak lagi macamnya.

Tersedia Pilihan Tong Sampah